WWW.MERAIHMIMPI3.BLOGSPOT.COM. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

sejarah sambas

Kalau anda mengunjungi Sambas jangan lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke Keraton Al-watzikhoebillah Sambas ,yang dibangun pada masa pemerintahan Raden Sulaiman yang bergelar Sultan Muhammad Syafi’uddin I. Keraton ini memang sudah beberapa kali dibongkar, dan Istana yang ada sekarang sudah berumur sekitar 200 tahun dan beberapa kali mengalami perehaban.
GERBANG MASUK
Istana yang kokoh berdiri dipertemuan Tiga Sungai, yakni Sungai Sambas Kecil,Sungai Subah dan Sungai Teberau, memang mempunyai sejuta kisah, yang kadang tak dapat dicerna dengan akal.
Raden Dewi Kencana, Ratu Keraton Sambas, mengungkapkan, Keraton Sambas masih banyak memiliki benda Pusaka, diantaranya Tempat tidur Raja, Kaca hias, Seperangkat alat untuk makan Sirih, Pakaian kebesaran Sultan, Payung Ubur Ubur, Tombak Canggah, Meriam Beranak, Pedang Sultan, Tempayan keramik dari Cina dan kaca Kristal dari Inggris dan Belanda.
Benda yang masih dikeramatkan hingga sekarang yakni meriam beranak.
Setiap ada sesutu yang akan terjadi meriam itu bisa saja raib/menghilang entah kemana, tapi bisa kembali dengan sendirinya. Meriam itu jumlahnya tujuh buah dan diberi nama : Raden Mas, Raden Putri , Raden Sambir, Raden Pajang, Ratu Kilat, Pangeran Pajajaran dan Panglima Guntur.
Menurut Gusti Sofyan Kailani(60) Penjaga Kamar Pusaka, saat ini Meriam Ratu Kilat sedang tidak ada ditempat dan telah lama pergi dari istana.itu biasanya akan menandakan kejadian alam luar biasa didunia. Namun menurutnya Meriam tersebut bisa saja tiba tiba ada ditempat (kembali dengan sendirinya)… Karena menurut beliau, meriam itu bukan Raib, atau dicuri orang, melainkan pergi meninggalkan keraton untuk mengatasi sesuatu hal atau peristiwa, tapi bila sudah sampai waktunya ia akan kembali dengan sendirinya.
Keraton yang berada diMuara Ulakan ini (Sambas) juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa, dimana Bangunan Keraton yang menghadap sungai tersebut, mencirikan bahwa jalur transportasi zaman dahulu melalui sungai dan adanya Lambang Kuda Laut di atas atap keraton menandakan bidang yang menyokong perekonomian keraton saat itu adalah Bahari.
Memasuki kawasan Keraton, pengunjung akan ditemukan dengan bangunan segi delapan. Dulunya itu merupakan Pendopo, tempat ini digunakan Sultan untuk beristirahat dari perjalanan jauh dan bermusyawarah. Atap bangunan yang berbentuk Segi Delapan itu memiliki makna delapan arah mata angin.

SEGI DELAPAN
Di bangunan ini ada delapan jendelanya menandakan arah angin, tapi terkadang jendela jendela tersebut memberikan tanda. Bila tujuh jendela tertutup, dan satu jendela akan terbuka dengan sendirinya, bermakna ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan, begitu seterusnya, yang mana tanda tanda tersebut terasa mustahil bagi sebagian orang. Di sisi kanan halaman istana terdapat sebuah mesjid yang juga bersamaan dibangun dengan keraton, mesjid ini diberi nama Mesjid Jami’ (artinya Mesjid Agung). Di depan samping pagar istana terdapat bangunan tempat meletakan Beduk, lingkaran beduk tersebut terbuat dari emas, tulang belulang monyet yang berwujud puteri.

BEDUK
Sementara di tengah lapangan depan Keraton, berdiri tegak Tiang Bendera yang berbentuk tiang layar kapal (seperti gambar di atas). Tiang ini menandakan kejayaan Keraton Sambas dari bidang Maritim pada masa Panglima Anom. Di bawahnya terdapat tiga meriam yang berasal dari belanda dan Inggris. Oleh karena itu, Keraton Sambas dulunya menjadi pusat pemerintahan dari Tujuh keraton di Kalimantan Barat.

MERIAM SAMBAS
Di bagian belakang keraton terdapat tempat pemandian Puteri dan Permaisuri keraton. Di samping bangunan keraton ada bak penampungan air, dimana air yang diambil itu dipercayai memiliki khasiat positif buat orang yang meminumnya. Di sekitar keraton juga terdapat Kampung Dalam Kaum yang artinya kampung keluarga keraton. Tak jauh dari keraton terdapat pemakaman raja raja dan keluarga keraton, diantaranya makam Sultan Syafi’uddin II (yang menulis Buku “SILSILAH SAMBAS”), Makam Permaisuri Ratu Anom Kesuma Ningrat, beserta keluarga dan keturunanya. Dalam kawasan ini terdapat tiga puluh enam pemakaman keluarga keraton.
Sumber:
http://yudi-laskar-alwatzkoebillah.blogspot.com/2009/11/keraton-alwatzikhobillah-istana-sambas.html

2010/01/27

Sejarah Asal Usul Sambas

Filed under: Uncategorized — Tags: — jimmysie @ 7:03 am

Keraton Al-Watzikhoebillah SambasKeraton Al-Watzikhoebillah Sambas
Kompleks Keraton Al-Watzikhoebillah SambasKompleks Keraton Al-Watzikhoebillah Sambas
Kompleks Keraton Al-Watzikhoebillah Sambas Masa LaluKompleks Keraton Al-Watzikhoebillah Sambas Masa Lalu
Masjid Jami Kesultanan SambasMasjid Jami Kesultanan Sambas
Masjid Jami Kesultanan Sambas Masa LaluMasjid Jami Kesultanan Sambas Masa Lalu Sejarah Asal Usul Sambas

Sejarah tentang asal usul kerajaan Sambas tidak bisa terlepas dari Kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat.
Pada jaman dahulu, di Negeri Brunei Darussalam, bertahtalah seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang kesembilan yaitu Sultan AbdulDjalil Akbar. Beliau mempunyai putra yang bernama sultan Raja Tengah. Raja tengah inilah yang telah datang ke Kerajaan Tanjungpura (Sukadana). Karena prilaku dan tata kramanya sesuai dengan keadaan sekitarnya, beliau disegani bahkan Raja Tanjungpura rela mengawinkan dengan anaknya bernama ratu Surya. Dari perkawinan ini terlahirlah Raden Sulaiman. Saat itu di Sambas memerintah seorang ratu keturunan Majapahit (Hinduisme) bernama Ratu Sepudak dengan pusat pemerintahannya di Kota Lama kecamatan Telok Keramat sekitar 36 Km dari Kota Sambas. Baginda Ratu Sepudak dikaruniai dua orang putri. Yang sulung dikawinkan dengan kemenakan Ratu Sepudak bernama raden Prabu Kencana dan ditetapkan menjadi penggantinya. Ketika Ratu Sepudak memerintah, tibalah raja Tengah beserta rombongannya di Sambas. Kemudian banyak rakyat menjadi pengikutnya dan memeluk agama Islam.
Tak berapa lama, Ratu Sepudak wafat. Menantunya Raden Prabu Kencana naik tahtadan memerintah dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Pada peristiwa bersamaan putri kedua Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu kawin dengan Raden Sulaiman (Putera sulung Raja Tengah. Perkawinan ini dikaruniai seorang putera bernama Raden Boma. Dalam pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda, diangkatlah pembantu-pembantu Administrasi kerajaan. Adik kandungnya bernama Pangeran Mangkurat ditunjuk sebagai Wazir Utama. Bertugas khusus mengurus perbendaharaan raja, terkadang juga mewakili raja. Raden Sulaiman ditunjuk menjadi Wazir kedua yang khusus mengurus dalam dan luar negeri dan dibantu menteri-menteri dan petinggi lainnya. Rakyat lebih menghargai Raden Sulaiman daripada Pangeran Mangkurat, hingga menimbulkan rasa iri di hati Pangeran Mangkurat.
Suatu ketika tangan kanan Raden Sulaiman bernama Kyai Satia Bakti dibunuh pengikut Pangeran Mangkurat. setelah dilaporkan kepada raja, ternyata tak ada tindakan positif, suasana makin keruh. Raden Sulaiaman mengambil kebijaksanaan meninggalkan pusat kerajaan, menuju daerah baru dan mendirikan sebuah kota dengan nama Kota bangun. Jumlah pengikutnyapun makin banyak. Hal ini telah mengajak Petinggi Nagur, Bantilan dan Segerunding mengusulkan untuk berunding dengan Ratu Anom Kesuma Yuda. Hasil mufakat keduanya meninggalkan kota lama. Raden Sulaiman menuju kota Bandir dan Ratu Anom Kesuma Yuda berangkat menuju sungai Selakau. Kemudian agak ke hulu dan mendirikan kota dengan ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.
Meninggalnya Ratu Anom Kesuma Yuda dan Pangeran Mangkurat, putera Ratu Anom yang bernama Raden Bekut diangkat menjadi raja dengan gelar Panembahan Kota Balai. Beliau beristrikan Mas Ayu Krontiko, puteri Pangeran Mangkurat. Raden Mas Dungun putera raden Bekut adalah Panembahan terakhir Kota Balai. Kerajaan ini berakhir karena utusan Raden Sulaiman menjemput mereka kembali ke Sambas. Kurang lebih 3 tahun kemudian berdiam di Kota Bandir, atas hasil mufakat, berpindahlah mereka dan mendirikan pusat pemerintahannya di Lubuk Madung, pada persimpangan tiga sungai : sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai Teberau. Kota ini juga disebut orang ”Muara Ulakan”. Kemudian keraton kerajaan dibangun dan hingga kini masih berdiri megah.
Di tempat inilah raden sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Pertama di kerajaan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafeiuddin I. Saudara-saudaranya, Raden Badaruddin digelar pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Raden Abdul Wahab di gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma. Raden Bima (anak Raden Sulaiman) ke Sukadana dan kawin dengan puteri raja Tanjungpura bernama Puteri Indra Kesuma (adik bungsu Sultan Zainuddin) dan dikaruniai seorang putera diberinama Raden Meliau, nama yang terambil dari nama sungai di Sukadana. Setahun kemudian merka pamit ke hadapan Sultan Zaiuddin untuk pulang ke Sambas, oleh Raden Sulaiman dititahkan berangkat ke Negeri Brunai untuk menemui kaum keluarga. Sekembalinya dari Brunai, Raden Bima dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad Tadjuddin. Bersamaan dengan itu, Raden Akhmad putera Raden Abdu Wahab dilantik menjadi Pangeran Bendahara Sri Maharaja. Wafatnya Sultan Muhammad Tadjuddin, pemerintahan dilanjutkan Puteranya Raden Meliau dengan gelar Sultan Umar Akamuddin I.
Berkat bantuan permaisurinya bernama Utin Kemala bergelar Ratu Adil, pemerintahan berjalan lancar dan adil. Inilah sebabnya dalam sejarah Sambas terkenal dengan sebutan Marhum Adil, Utin Kemala adalah puteri dari pangeran Dipa (seorang bangsawan kerajaan Landak) dengan Raden Ratna Dewi (puteri Sultan Muhammad Syafeiuddin I).
Wafatnya Sultan Umar Akamuddin I, Puteranya Raden Bungsu naik tahta dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. Kemudian diganti oleh Abubakar Tadjuddin I. Berganti pula dengan Raden Pasu yang lebih terkenal dengan nama Pangeran Anom. Setelah naik tahta beliau bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I. Sebagai wakilnya diangkatlah Sultan Usman Kamaluddin dan Sultan Umar Akamuddin III. Pangeran Anom dicatat sebagai tokoh yang sukar dicari tandingannya, penumpas perampok lanun. Setelah memerintah kira-kira 13 tahun (1828), Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I wafat. Puteranya Raden Ishak (Pangeran Ratu Nata Kesuma)baru berumur 6 tahun. Karena itu roda pemerintahan diwakilikan kepada Sultan Usman Kamaluddin.
Tanggal 11 Juli 1831, Sultan Usman Kamaluddin wafat, tahta kerajaan dilimpahkan kepada Sultan Umar Akamuddin III. Tanggal 5 Desember 1845 Sultan Umar Akamuddin III wafat, maka diangkatlah Putera Mahkota Raden Ishak dengan gelar Sultan Abu Bakar Tadjuddin II. Tanggal 17 Januari 1848 putera sulung beliau yang bernama Syafeiuddin ditetapkan sebagai putera Mahkota dengan gelar Pangeran Adipati. Tahun 1855 Sultan Abubakar Tadjuddin II diasingkan ke Jawa oleh pemerintah Belanda (Kembali ke Sambas tahun 1879). Maka sebagai wakil ditunjuklah Raden Toko’ (Pangeran Ratu Mangkunegara) dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin. Pada tahun itu juga atas perintah Belanda, Pangeran Adipati diberangkatkan ke Jawa untuk study.
Tahun 1861 Pangeran Adipati pulang ke Sambas dan diangkat menjadi Sultan Muda. Baru pada tanggal 16 Agustus 1866 beliau diangkat menjadi Sultan dengan gelar sultan Muhammad Syafeiuddin II. Beliau mempunyai dua orang istri. Dari istri pertama (Ratu Anom Kesumaningrat) dikaruniai seorang putera bernama Raden Ahmad dan diangkat sebagai putera Mahkota.
Dari istri kedua (Encik Nana) dikaruniai juga seorang putera bernama Muhammad Aryadiningrat. Sebelum manjabat sebagai raja, Putera Mahkota Raden Ahmad wafat mendahului ayahnya. Sebagai penggantinya ditunjuklah anaknya yaitu Muhammad Mulia Ibrahim. Pada saat Raden Ahmad wafat, Sultan Muhammad Syafeiuddin II telah berkuasa selama 56 tahun. Beliau merasa sudah lanjut usia, maka dinobatkan Raden Muhammad Aryadiningrat sebagai wakil raja dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin II.
Setelah memerintah kira-kira 4 tahun, beliau wafat. Roda pemerintahan diserahkan kepada Sultan Muhammad Mulia Ibrahim. Dan pada masa pemerintahan raja inilah, bangsa Jepang datang ke Sambas. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim adalah salah seorang yang menjadi korban keganasan Jepang. Sejak saat itu berakhir pulalah kekuasaan Kerajaan Sambas. Sedangkan benda peninggalan Kerajaan Sambas antara lain tempat tidur raja, kaca hias, seperangkat alat untuk makan sirih, pakaian kebesaran raja, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam lele, 2 buah tempayan keramik dari negeri Cina dan kaca kristal dari negeri Belanda.
Sumber:
http://humassambas.com

Bahasa Melayu Sambas Masuk Mulok

Filed under: Uncategorized — Tags: , — jimmysie @ 6:40 am

Sambas-  Bahasa daerah, khususnya melayu Sambas, akan menjadi materi muatan lokal sekolah di Kabupaten Sambas. Dan untuk itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas telah melakukan loka karya Bahasa Daerah Sambas, di Balairung Sari Rumah Dinas Bupati Sambas. Loka karya digelar dalam rangka berlakunya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 mengenai standar isi untuk satuan dasar pendidikan dan menengah khususnya tentang Muatan Lokal Bahasa Daerah. Dalam loka karya tersebut materi yang diangkat adalah buku yang ditulis oleh Al ”Amruzi. MZ, dengan judul Tata Bahase Daerah Sambas. Peserta diikuti oleh tokoh budaya, tokoh masyarakat, kepala UPT Diknas, maupun kepala sekolah.
Pemerintah Kabupaten Sambas, menurut Bupati Sambas Ir H Burhanuddin A Rasyid, sangat menyambut baik gagasan tersebut. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati akar budayanya sendiri, salah satunya yakni bahasa. ”Kami sangat menyambut baik. Ia ini tentunya dapat memberikan manfaat yang besar bagi kelestarian bahasa dan budaya Melayu Kabupaten Sambas,” ujar Bupati dalam suatu acara, kemarin.
Burhanuddin menegaskan bahwa masyarakat Kabupaten Sambas sudah seharusnya bangga terhadap udaya yang dimiliki sekarang. Karena lanjut Burhanuddin, budaya seperti acara pernikahan, khitanan dan budaya lainnya yang dimiliki bumi terigas ini justru mempunyai nilai positif dan plus, salah satunya dikarenakan tidak dimiliki semua daerah. ”Kita arus bangga budaya sendiri. Hal ini bukan sebagai bentuk menonjolkan rasa kedaerahan yang kental. Melainkan sebagai bentuk upaya dan langkah melestarikan budaya yang kita miliki,” paparnya.
Bupati memaparkan bahasa melayu Sambas memiliki ciri tersendiri dari bahasa melayu serumpun lain. Dan hal tersebut tegas dia harus menjadi ciri khas tersendiri. Antar desa satu dengan desa yang laiinya masih terdapat beberapa perbedaan yang semakin memperkaya khasanah budaya bahasa melayu Sambas. ”Salah satu ciri bahasa melayu Sambas adalah ada penyebutan kata yang penekanan pada hurufnya, yaitu ada huruf yang ganda,” ungkapnya.
Dicontohkannya, penyebutan kata besar, dimana dalam bahasa melayu Sambas disebut bassar. Yaitu ada huruf ganda pada kata bassar. Selain memasukkan bahasa daerah kedalam muatan lokal, Bupati juga mengharapkan diselenggarakannya kompetisi atau perlombaan yang garis besarnya menggunakan bahasa melayu Sambas. Hal tersebut jelas dia akan efektif untuk melestarikan bahasa daerah. ”Karena kita sangat mengkhawatirkan terjadi pengikisan pengetahuan tentang budaya sendiri. Terutama ancaman ini kita khawatirkan menyerang generasi muda sekarang ini” ingat dia.
Wakil Bupati Sambas, dr Hj Juliarti Alwi MPh, mengatakan pelestarian dan pengembangan bahasa daerah Sambas memang penting. Jelas dia, dengan memperhatikan masukan dari kalangan pendidik dan pemerhati bahasa, khususnya bahasa daerah Sambas, sudah selayaknya bahasa melayu Sambas diberlakukan sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingkat SD atau madrasah Ibtidaiyah dan SMP sederajat. ”Dan Tidak menutup kemunkinan hingga jenjang SMA Sederajat. Hal ini merupakan keputusan strategis dan langkah nyata, karena masyarakat di daerah Sambas terdapat kemajemukan ragam budaya, bahasa, dan etnis, sehingga kita harus terbuka dan adaptif terhadap perbedaan dan menerima perubahan pada masa yang akan datang,” urainya.
Sumber : www.pontianakpost.com

Tenun Songket Sambas Mati Suri?

Filed under: Uncategorized — Tags: , — jimmysie @ 6:13 am
Oleh: Muhlis Suhaeri
Kemajuan peradaban dan teknologi memang bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, dia sungguh menguntungkan. Tapi di sisi lain, dia akan menggilas yang pernah hadir dan tak sanggup bertahan.
Demikian dengan berbagai produk dan kebudayaan di Nusantara. Yang terdiri dari beribu kepulauan, tentu saja menghasilkan berbagai jenis ragam dan produk budaya berbeda. Ambil satu contoh saja tradisi menenun. Hampir di sebagian besar wilayah Indonesia, ada kerajinan penghasil bahan sandang ini. Dan menjadi satu pertanyaan adalah, sanggupkah warisan budaya tersebut, bertahan menghadapi era globalisasi? Mari kita lihat salah satu faktanya.
Nama tenun ini sesuai dengan nama daerahnya, tenun songket atau tenun ikat Sambas. Kerajinan tenun, kian hari seolah kian terpuruk pusaran waktu. Betapa tidak, hasil kerajinan luar biasa bersahaja itu, seakan mati suri. Mati segan hidup pun enggan.
Pasalnya?
Salah satunya, sungguh sulit memasarkan barang kerajinan ini keluar daerah. Tidak itu saja. Proses produksi juga tersendat. Para pengrajin tersandung dengan pengadaan bahan baku. Benang semakin sulit diperoleh. Kalau pun ada, harganya cukup mahal. Tak itu saja. Sekarang ini susah mencari penenun. Mereka banyak hijrah dan mencari pekerjaan lain di Malaysia.
Alasannya cukup manusiawi. Penghasilan dari menenun, tidak menghasilkan cukup uang. Bahkan, banyak pula pengrajin di daerah ini, menjadi penenun di Brunei. Di sana lebih menjanjikan dari segi pendapatan.
Banyak lika-liku dialami para pengrajin. Padahal, ketrampilan memintal dan merajut benang menjadi kain itu, usianya sudah cukup lama.
“Kerajinan tenun songket Sambas usianya sudah ratusan tahun,“ kata Sahidah (60 tahun), pengrajin dari Dusun Manggis, Desa Tumuk Manggis, Sambas.
Sahidah sudah tiga generasi membuat tenun. Dia mewarisi selembar kain. Usia kain itu mencapai seratusan tahun.
Kini, di desanya tinggal 15 pengrajin saja. Itu pun yang aktif hanya 3 pengrajin. Artinya, pengrajin lain akan membuat kain, bila ada pesanan.
Apa yang menjadi motif dan ciri khas kain songket Sambas?
Orang Sambas biasa menyebutnya dengan suji bilang. Kain songket Sambas, selalu ada pucuk rebungnya. Pucuk rebung merupakan bambu muda. Motif itu bentuknya segi tiga, memanjang dan lancip.
Samidah juga mengembangkan motif sendiri. Motif itu dia adopsi dari berbagai tanaman mau pun hewan. Salah satu yang dia kembangkan adalah motif daun gali. Daun gali pipih dan memanjang bentuknya. Jenis tetumbuhan ini, banyak dijumpai di sekitar sungai Sambas.
Untuk membuat pola dan motif, harus teliti dan tidak asal menggambar. Ada perkaliannya. Biasanya motif itu digambar terlebih dahulu di kertas bergaris dan berkotak-kotak kecil. Bila motif salah mengambarnya, cara menempatkan benang akan salah. Padahal, salah menempatkan satu benang saja, bisa salah semua.
Tenun songket Sambas tidak bisa dipisahkan dengan benang emas. Benang emas itulah sebagai penanda motif. Jaman dulu, benang emas terbuat dari benang emas colok. Ciri dari benang ini ringan dan tahan lama. Warnanya pun tidak pudar, meski telah berusia ratusan tahun.
Pengrajin tidak bisa mendapatkan benang itu lagi. Sekarang ini, pengrajin menggunakan benang emas dari Jepang dan India. Benang dari Jepang cirinya tahan lama dan warnanya tidak pudar. Benang India kasar dan warnanya gampang berubah. Untuk mendapatkan benang, mesti memesan dari Jakarta.
Warna tenun songket Sambas cukup beragam. Biasanya warna cerah. Ada warna merah manggis, orange, warna paru (pink), hijau dan hitam. Peruntukannya, tentu saja untuk perempuan dan lelaki. Ukuran tenun songket untuk perempuan 200 cm kali 1,05 cm. Untuk lelaki, biasa disebut kain sabuk, ukurannya 150 cm kali 60 cm.
Harga kain untuk perempuan yang bagus sekitar Rp 1,5 juta perlembar. Bila pelanggan ingin motif lain, dan motifnya tidak ada di sana, mereka bisa memesan motifnya. Untuk itu, mereka harus rela merogoh kantungnya Rp 2 juta. Kain yang biasa seharga Rp 200.000. Untuk kain lelaki, yang bagus harganya Rp 750.000. Dan yang biasa Rp 150.000.
Bila motif itu sulit, cara pengerjaannya selama satu bulan. Untuk motif biasa saja, sekitar dua minggu. Pengrajin biasanya bekerja dari pukul 7 hingga pukul 17.00. Antara waktu itu, ada jeda dua jam beristirahat. Karyawan banyak juga membawa pekerjaannya ke rumah. Sekarang ini, Sahidah mempunyai 10 karyawan. Bayaran pekerja berfariasi. Untuk kain perempuan yang bagus, pekerja bisa mendapatkan Rp 500.000 perlembar. Dan untuk kain biasa sekitar Rp 50.000.
Proses dari pengerjaan tenun songket Sambas lumayan rumit. Diperlukan kesabaran dan ketelitian melakukannya. Pekerjaan membuat kain melalui beberapa tahap. Pertama, narraw atau memintal. Kedua, nganek, menggabungkan dari perumahan kolong benang ke anekan. Ketiga, nattar, menggulung benang dengan papan tandayan. Keempat, ngubung, menghubungkan benang dari tandayan ke suri (merapatkan benang). Kelima, menenun. Keenam, nyongket, membuat bunga dan memasukkan benang emas ke motif tenunan. Dari semua proses itu, nganek merupakan pekerjaan paling sulit. Bahkan, di kampung itu, tinggal satu orang saja sanggup mengerjakannya.
Sahidah punya obsesi melestarikan tenun ikat ini. Caranya, dia mendidik dan mengajari masyarakat setempat menenun. Belajar menenun membutuhkan waktu lumayan lama. Supaya mampu menenun dengan baik, sperlu waktu sekitar 2 tahunan. Tapi, hal itu juga tergantung dari kecerdasan dan kemampuan seseorang, dalam belajar dan menyerap ilmu yang diberikan.
Pemasaran kain Sambas hanya berputar di sekitar Sambas. Dalam sebulan paling banter, 4-5 lembar. Masyarakat menggunakan kain songket Sambas untuk seserahan, atau mas kawin bagi perkawinan, atau menghadiri sebuah prosesi adat. Mayoritas pembeli biasanya warga Sambas. Atau, orang Sambas yang bermukim di daerah lain, dan masih punya keterikatan budaya dengan Sambas. Pembeli juga datang dari Pontianak, Jakarta, Malaysia dan Brunei.
Contohnya, Dayang Nazariah (59 tahun) dari Pontianak. Ketika menikah, usianya 24 tahun. Sekarang ini, dia masih menyimpan kain seserahan atau antaran itu dengan baik. Warna mau pun kondisi kain masih bagus.
Nah, bagaimana supaya kain songket ini awet dan tahan lama? Perlu perlakuan khusus. Kain Sambas tidak boleh dicuci dan dikucek. Bisa dicuci dengan dry laundry. Kalau pun orang mau mencuci, boleh dibilas saja. Kain ini tidak boleh dijemur di bawah terik matahari langsung, karena warna dan moifnya akan cepat memudar dan rusak.
Cara menjemurnya hanya diangin-anginkan saja. Cara menyimpannya pun perlu perlakuan khusus. Dilipat dengan bagus dan rapi, lalu meletakkannya di lemari. Bila hal itu Anda lakukan, maka kain songket Sambas akan menemani, hingga beberapa generasi ke depan.
Sahidah berharap pemerintah ikut berperan dalam melestarikan tenun ikat ini. Caranya, mempertemukan pengrajin dengan pasar. Hal itu bisa dilakukan dengan membuat pameran atau lainnya. Pemerintah musti memperhatikan industri kecil ini melalui kemudahan memperoleh kredit. Modal kecil membuatnya tak sanggup membeli benang langsung ke Jakarta.
Bila ke sana, dia harus membeli benang minimal 50 kg, supaya tidak tekor uang perjalanannya. Dia tentu saja tidak sanggup membeli benang sebesar itu. Membeli benang secara eceran, tentu saja membuatnya tersendat melakukan proses produksi.
Sahidah meminta pemerintah melindungi industri ini dari berbagai penjiplakan motif. Karenanya, pengrajin melalui Dekrenasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) sudah berusaha mengajukan 180 motif yang ada ke Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan), Sambas. Nyatanya, yang diterima baru 5 buah dari 13 yang diajukan.
Ya, itulah berbagai kendala yang selalu menghinggapi para pengrajin tradisional. Jangan sampai kain Sambas nasibnya seperti tempe. Makanan asli Indonesia, tapi dipatenkan Jepang dan Amerika. Atau seperti nasib batik, yang telah dipatenkan Malaysia.
Well, bila tidak kita sendiri yang peduli, siapa lagi?***
Sumber:
Foto by Muhlis Suhaeri, “Tenun Songket Sambas.”
Edisi Cetak, minggu ketiga Desember 2006, Matra Bisnis

2010/01/26

Geratak Sabbo akan Dipindah

Filed under: Uncategorized — Tags: , — jimmysie @ 4:16 pm

SAMBAS–Geratak atau jembatan Sabbo’ rencana akan dipindahkan Pemerintah Kabupaten Sambas ke lokasi lain. Bangunan tua yang mempunyai nilai historis itu akan diganti dengan jembatan kerangka baja. Hal ini terungkap saat pemerintah daerah memberikan informasi kepada anggota DPRD Kalbar daerah pemilihan Kabupaten Sambas. Kepala Dinas Bina Marga Perairan dan ESDM Sambas Fery Madagaskar, Kamis (26/11), mengatakan pemerintah daerah telah melakukan kajian teknis pembangunan jembatan baru. Menurutnya, dana yang dibutuhkan membangun jembatan baru sebesar Rp28 miliar.
“Kondisi jembatan sekarang sudah tidak memungkinkan untuk dilalui mobil. Kekuatannya sudah tidak seperti dulu lagi,” katanya.Ia menyebutkan jembatan ini cukup padat lalu lintasnya, karena dilalui masyarakat terutama pelajar setiap harinya. Dikatakannya, di sana cukup banyak sekolah baik SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.“Bayangkan saja setiap hari 1.000 orang menggunakan sepeda motor melintas di jembatan tersebut. Tentunya, nilai kekuatan jembatan berangka kayu ulin itu tidak mampu menerima tekanan kendaraan yang lebih besar,” ungkap Feri.Bupati Sambas Burhanuddin A Rasyid mengatakan jembatan kayu itu akan dipindahkan ke lokasi yang tidak terlalu ramai lalu lintasnya. Menurutnya, upaya pemerintah daerah supaya kerusakan tidak parah dengan memasang portal untuk mobil.
“Kami mengharapkan dukungan anggota DPRD Kalbar khususnya dapil Kabupaten Sambas membantu penganggarannya. Kalau pun, di Pemprov Kalbar punya anggaran untuk percepatan bangunan jembatan baru,” tuturnya.Ia mengemukakan Kabupaten Sambas mempunyai keterbatasan pembangunan. Dikatakannya, daerah yang baru lepas dari kata tertinggal ini mengharapkan dukungan anggaran pemerintah provinsi.“Cukup banyak pembangunan infrastruktur daerah yang menggunakan sharing anggaran antara kabupaten dan provinsi. Mudah-mudahan, rekan-rekan DPRD Kalbar dapil Kabupaten Sambas dapat memperjuangkannya,” ujar Burhanuddin. (riq)
Sumber:
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=26186

Semangka Emas (Cerita Rakyat Sambas)

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — jimmysie @ 4:12 pm
“Rambut sama hitam, hati lain-lain,” (Sungguhpun manusia mempunyai persamaan pada zahirnya, namun sifat, kelakuan, perasaan dan hati masing-masing adalah berbeda). Makna peribahasa ini tergambar dalam sebuah cerita rakyat di daerah Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita ini mengisahkan tentang dua orang bersaudara yaitu Muzakir dan Dermawan. Keduanya adalah putra dari seorang saudagar kaya di daerah itu. Setelah orang tuanya meninggal, keduanya mendapat harta warisan yang sama banyaknya. Namun, kedua orang bersaudara ini memiliki sifat, kelakuan, perasaan dan hati yang berbeda. Muzakir memiliki sifat yang sangat kikir. Ia enggan untuk mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan apapun. Sebaliknya, Dermawan, sesuai dengan namanya, memiliki sifat yang sangat dermawan. Ia suka mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun orang lain. Suatu ketika, si Dermawan jatuh miskin, karena sebagian besar hartanya disumbangkan kepada orang-orang miskin. Muzakir yang mendengar kabar itu tertawa terpingkal-pingkal, karena dikiranya saudaranya itu orang bodoh. Berselang beberapa waktu, Muzakir mendengar kabar lagi tentang Dermawan, bahwa saudaranya itu sudah tidak miskin lagi. Ia tiba-tiba menjadi kaya-raya, rumahnya sangat besar dan kebunnya sangat luas. Hal ini membuat Muzakir penasaran untuk mengetahui rahasia keberhasilan saudaranya yang tiba-tiba kaya mendadak. Pembaca yang budiman, penasaran juga kan…? Bagaimana cara Dermawan bisa kaya mendadak? Mau tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Semangka Ema berikut ini.
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Sambas, Kalimantan Barat, hiduplah seorang saudagar yang kaya-raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Namun, keduanya memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang. Ia tidak pernah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Sebaliknya, Derwaman sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Ia tidak rakus dengan harta dan uang. Sebelum meninggal dunia, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Ia bermaksud agar anak-anaknya tidak berbantahan dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak. Setelah harta tersebut dibagi, Muzakir dan Dermawan tinggal terpisah di rumahnya masing-masing. Muzakir tinggal di rumahnya yang mewah, demikian pula Dermawan.
Uang bagian Muzakir dimasukkan ke dalam peti, lalu ia kunci. Bila ada orang miskin datang ke rumahnya, ia bukannya memberinya sedekah, melainkan tertawa mengejeknya. Bahkan ia tidak segan-segan mengusirnya jika orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya. Suatu hari, seorang perempuan tua dengan pakaian compang-camping berjalan terseok-seok datang menuju rumah Muzakir. Di depan rumah Muzakir, nenek tua itu memohon belas kasihan, “Tuan, kasihanilah nenek. Berilah nenek sedekah!” Mendengar suara nenek itu, Muzakir keluar dari dalam rumahnya dan menertawakan perempuan tua itu, “Ha ha ha…. Hai nenek jelek, pergi kau dari sini! Aku muak melihat wajahmu yang keriput itu!” Meskipun dibentak, nenek tua itu tidak mau beranjak. Ia pun terus mengiba kepada Muzakir, “Tapi tuan, nenek sudah dua hari tidak makan, kasihanilah nenek.” Melihat nenek itu tidak mau pergi, Muzakir menyuruh orang gajiannya untuk mengusirnya. Akhirnya, perempuan tua yang malang itu pun pergi tanpa mendapat apa-apa, kecuali penghinaan.
Orang-orang miskin yang sudah mengetahui sifat Muzakir yang kikir itu, termasuk si nenek tua tadi, tidak mau lagi ke rumah Muzakir. Mereka kemudian berduyun-duyun ke rumah Dermawan. Berbeda dengan sifat Muzakir, Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin tersebut dengan senang hati dan ramah. Mereka dijamunya makan dan diberinya uang karena ia merasa iba melihat mereka hidup miskin dan melarat. Hampir setiap hari orang-orang miskin datang ke rumahnya. Lama-kelamaan harta dan uang Dermawan habis, sehingga ia tidak sanggup lagi menutupi biaya pemeliharaan rumahnya yang besar. Akhirnya, ia pindah ke rumah yang lebih kecil, dan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dengan keadaan hidupnya.
Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. “Itulah akibatnya selalu melayani orang-orang miskin. Pasti kamu juga ikut miskin, dasar memang tolol si Dermawan itu,” gumam si Muzakir. Bahkan, Muzakir merasa bangga sekali karena bisa membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya itu.
Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan, “Kasihan,” kata Dermawan. “Sayapmu patah, ya?” lanjut Dermawan berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. “Biar kucoba mengobatimu,” katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu pun menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan akhirnya ia pun terbang.
Keesokan harinya burung pipit itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, lalu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tersenyum melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun hanya biji biasa, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanamnya di belakang rumahnya.
Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Ternyata, yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya, karena banyak sekali bunganya. “Kalau bunganya ini semuanya menjadi buah, saya pasti kenyang makan semangka dan sebagiannya bisa saya sedekahkan kepada fakir miskin,” kata Dermawan dalam hati berharap. Tetapi aneh, setelah beberapa minggu semangka itu ia pelihara dengan baik, namun di antara bunganya yang banyak itu hanya satu yang menjadi buah. Meskipun hanya satu, semangka itu semakin hari semakin besar, jauh lebih besar dari semangka umumnya. Dermawan tergiur melihat semangka besar itu. “Kelihatannya sedap sekali semangka ini. Mmm….harum sekali baunya,” ucap Dermawan setelah mencium semangka itu.
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya semangka itu dipanen. Dermawan memetik buah semangka itu. “Wah…, bukan main beratnya semangka ini,” gumam Dermawan sambil terengah-engah mengangkat semangka itu. Kemudian ia membawa semangka itu masuk ke dalam rumahnya, dan diletakkannya di atas meja. Lalu dibelahnya dengan pisau. Setelah semangka terbelah, betapa terkejutnya Dermawan. “Wow, benda apa pula ini?” tanya Dermawan penasaran. Ia melihat semangka itu berisi pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Disangkanya hanya pasir biasa. Setelah diperhatikannya dengan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia tidak sadar kalau dari luar rumahnya ada seekor burung memperhatikan tingkahnya. Setelah burung itu mencicit, baru ia tersadar. Ternyata, burung itu adalah burung pipit yang pernah ditolongnya. “Terima kasih! Terima kasih!” seru Dermawan dengan senangnya. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.
Keesokan harinya, Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Meskipun setiap hari dan setiap saat orang-orang miskin tersebut datang ke rumahnya, Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu. Uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah-ruah. Tersiarlah kabar di seluruh kampung bahwa Dermawan sudah tidak miskin lagi.
Suatu hari, berita keberhasilan Dermawan terdengar oleh abangnya, Muzakir. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Ia pun ingin mengetahui rahasia keberhasilan adiknya, lalu ia pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepada Muzakir tentang kisahnya.
Mengetahui hal tersebut, Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kakinya atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, tak seekor burung pun yang mereka temukan dengan ciri-ciri demikian. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Ia gelisah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan burung yang patah sayapnya. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan (sumpit). Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung itu. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Tak lama, burung itu kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Dalam hatinya, ia selalu berharap agar cepat menjadi kaya, “Ah, sebentar lagi saya akan menjadi kaya-raya dan melebihi kekayaan si Dermawan,” kata Muzakir dalam hati tak mau kalah.
Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tiga hari kemudian, tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Beberapa bulan kemudian, tibalah waktunya semangka itu dipanen. Dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir sudah tidak sabar lagi ingin melihat emas urai murni berhamburan dari dalam semangka itu. Ia pun segera mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil muntah-muntah, karena tidak tahan dengan bau lumpur itu. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya. Dermawan menjadi sangat malu ditertawakan oleh orang-orang di sekitarnya.
* * *
Dari cerita di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa sekecil apa pun pemberian orang, harus kita terima dengan senang hati. Karena kita mana tahu, kalau benda kecil itu sangatlah berharga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan ketika ia menerima biji kecil dari burung pipit. Ia menerimanya dengan senang hati, dan ia tidak menyangka kalau biji kecil itu akan menjadi emas urai murni.
Hikmah lain yang dapat diambil dari cerita di atas adalah menjadi orang dermawan memang membutuhkan suatu pengorbanan, baik materil maupun moril. Pengorbanan tersebut hanya Allah SWT saja yang dapat menggantinya, itu sangat cepat dan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan yang suka menolong fakir miskin meskipun ia sendiri ikut menjadi miskin. Namun, semua pengorbanan yang telah dilakukan Dermawan tersebut dibalas oleh Allah SWT, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari apa yang telah ia dermakan.
Sebaliknya, jika kita menjadi orang yang loba, kikir, tidak mau memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, maka Allah SWT enggan untuk membalasnya dengan kebaikan. Seperti yang dialami oleh Muzakir, karena ia suka menumpuk-numpuk harta dan tidak mau bersedekah kepada fakir miskin, maka Allah membalasnya dengan kehinaan. Ia menjadi terkucilkan dari masyarakat di sekitarnya. Ketika ia berharap mendapat emas, lumpur berbau bangkai yang ia peroleh, dan orang-orang di sekitarnya pun menertawakannya.
Harta datangnya dari Allah SWT Yang Maha Pemberi Rezeki dan Mahakaya. Harta itu dititipkan kepada manusia agar mereka bisa beramal dan bersedekah dengan ikhlas semata-mata karena mengharap keridaan-Nya. Dengan demikian, manusia akan mendapatkan balasan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat daripada-Nya. Oleh karena itu, marilah memperbanyak sedekah dan membantu orang lain, terutama orang-orang yang tidak seberuntung kita. Senang jadi dermawan, kejutan akan datang tiap saat, hidup menjadi semakin indah dan dunia akan tersenyum melihat kita.
Sumber :
www.mail-archive.com
melayu online

Malaysia Klaim Tenun Ikat Sambas

Filed under: Uncategorized — Tags: , — jimmysie @ 4:10 pm
Malaysia sepertinya tidak bosan mengklaim karya Indonesia. Yang terbaru, tenun ikat kerajinan Sambas, Kalimantan Barat, diakui sebagai produk negeri jiran itu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar Dody S. Wardaya menemukan tenun ikat Sambas yang diberi label made in Malaysia.
Tenun ikat itu aslinya memang diproduksi para perajin asal Sambas. Pemasarannya sampai ke Malaysia. Saat beredar di pasar negeri jiran, produk itu dilabeli made in Malaysia. ”Supaya jangan sampai berlarut-larut, ini segera kita daftarkan jenis-jenisnya,” kata Dody.
Begitu juga jenis tenun ikat lain dari kabupaten/kota di Kalbar dan hasil industri kreatif lain seperti tikar. Kerajinan itu juga diincar Malaysia. “Di Waterfront Kuching, Malaysia, banyak pedagang kaki lima di sana menjual produk dari Indonesia dengan label made in Malaysia. Mereka pandai, sebelum dijual, barang-barang itu dimasukkan dulu di rumah untuk diberi label. Saya melihatnya sendiri,” kata Dody.
Dia berjanji pemerintah provinsi memberikan kemudahan pengurusan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual ke Departemen Hukum dan HAM. “Karena itu, kami mendorong industri kreatif untuk mendaftarkan hak cipta dan patennya,” ujarnya.
Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalbar Yosi Pontian Delyuswar mengatakan, pengurusan hak atas kekayaan intelektual, hak paten, dan merek sebagai perlindungan hukum atas karya ciptanya tidak terlalu sulit. “Cuma karena kurang sosialisasi, produsen tidak tahu cara mendaftarkan hasil karya ciptanya,” kata pria yang lembaganya pernah menyelenggarakan sosialisasi tentang hak paten dan hak cipta di Pontianak beberapa bulan yang lalu kepada Pontianak Post belum lama ini.
Sumber : jawapost

Giliran Bubur Padas Sambas Diklaim Malaysia

Filed under: Uncategorized — Tags: , — jimmysie @ 4:08 pm



Mungkin tak banyak yang tahu kalau Bubur Padas, makanan khas masyarakat Kabupaten Sambas, Kalbar, telah lama diklaim sebagai salah satu makanan Malaysia. Guna lebih mempopularkan masakan yang satu ini, resep bubur padas telah dibukukan dalam Malay Culture Sarawak, Bubur Padas Had Its Origins From The Sarawak Malay. Pustaka Neg.Sarawak 2005.Pembukuan resep bubur padas asal Kabupaten Sambas oleh pihak Malaysia itu jelas menimbulkan dampak yang kurang baik. Bagaimana tidak, akibat peredaran resep bubur padas secar luas, masyarakat Malaysia yang tidak tahu tentang asal usul bubur padas mengira makanan tersebut memang berasal dari Malaysia. Temuan ini dikemukakan Muhammad Natsir, peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak Wilayah Kalimantan. Dalam kunjungannya ke Perpustakaan Sarawak, beberapa waktu lalu, dirinya banyak menjumpai hasil karya dari penulis serta sastrawan dari Kalimantan Barat. Karya mereka banyak yang dijadikan buku di Malaysia. Alhasil, Malaysia mengkalim bahwa karya anak bangsa tersebut telah menjadi hak intelektual mereka. Salah satu buku tersebut adalah Bubur Padas.Selain mengkalim bubur padas, Malaysia juga mengakui kerajinan Tikar Lampit dan Ikan Terubok menjadi bagian dari seni kerajinan tangan dan panganan khas Sarawak. Begitu hebatnya promosi Malaysia terhadap kedua jenis produk home industries ini, sampai-sampai para pedagang di Sarawak menjadikannya sebagai oleh-oleh. “Kalau saja Malaysia mau jujur, sebenarnya Ikan Terubok merupakan panganan khas masyarakat Melayu Mempawah. Panganan ini banyak dijual di Pasar Sungai Kunyit. Sedangkan Tikar Lampit merupakan kerajinan khas masyarakat suku Dayak yang tinggal di Kabupaten Bengkayang, Sanggau, Sintang, serta Kapuas Hulu,” terang Natsir.
Belajar dari kejadian yang telah lalu, dimana Malaysia telah mengklaim tari Reok Ponorogo yang dikembangkan para migran Jawa di Malaysia; alat musik Angklung dari Jawa Barat, seni Batik dari Jawa, lagu Rasa Sanyange, lagu Padang yang dinyayikan Tiar Ramon, serta tari Pendet dari Bali yang ditayangkan KRU Sdn Bhd di Discovery Channel, sepertinya bangsa Indonesia perlu menarik pelajaran penting.  Pengamat sosial dari Fisip Untan, M Sabran Achyar mengatakan tindakan saling klaim budaya oleh Malaysia sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemerintah Indonesia mau memberikan proteksi terhadap hasil karya anak negeri. Pemberian proteksi seperti itu dibenarkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten (Hak Paten). “Saya melihat pemerintah lamban dalam bertindak. Kalau saja dari dulu pemerintah mau mematenkan aneka seni budaya bangsa kita, maka peristiwa pengakuan asset bangsa oleh Malaysia tentu tidak akan terjadi,” ungkap Sabran yang juga aktif di Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) ini.
Menindaklanjuti pengakuan budaya bangsa oleh Negara lain, Sabran meminta kepada instansi terkait untuk segera melakukan inventarisir asset budaya daerah secara lengkap. Setelah itu, patenkan. Agar dikemudian hari persitiwa yang sama tidak lagi terulang, ada baiknya jika pemerintah aktif melakukan promosi budaya ke sejumlah negara sahabat. “Dengan rutinnya melakukan kunjungan muhibah ke negara tetangga, saya yakin aksi saling klaim budaya akan berakhir,” sarannya.(go)
Sumber:
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=23052
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar